Sabtu, 19 Desember 2009

22November2009 Hesitation

Beribu kali merasa dan mengucapkan, aku tidak tahu bagaimana kasih sayang itu dan apa artinya. Saat aku berpikir ‘ya, aku menyayanginya’ , sungguhkah aku? Benarkah aku begitu?
Tanpa aku sengaja, muncul tanda tanya besar di kepalaku dan terbersit perasaan tak yakin.
Yang aku tahu aku tidak ingin dia pergi karena pasti ada sesuatu yang hilang jika dia tak ada, namun sering kali aku merasa butuh waktu untuk menjauh sejenak darinya.
Saat dia tak di sampingku aku merasa biasa, tak ada perasaan rindu yang menyiksa hingga mengharuskanku mencari alasan untuk bertemu. Namun ketika aku melihat sosoknya, aku seakan tidak ingin dipisahkan darinya.
Perasaanku tak tenang melihatnya berada dalam kesusahan. Aku ingin selalu menjaganya seperti ia menjagaku karena aku cemas bila ia tak dapat mengatasi sesuatu sendirian dan aku tidak dapat berada di sampingnya untuk membantunya.
Aku ingin menjadi sesuatu yang bernilai di matanya. Aku ingin berharga dan dibutuhkan seperti aku membutuhkannya.
Aku senang mendengar kisah-kisahnya dan dialah muaraku. Tempatku membagi kisah pahit-manisnya hidup. Seseorang yang ingin aku jadikan saksi segala macam hal yang terjadi pada hidupku dan begitupun aku padanya.
Aku ingin menjadi masa lalu, saat ini, dan masa depannya. Aku tidak suka ia menoleh kembali pada seseorang dari masa lalunya dan bila hal itu terjadi, itu sangat menggangguku.
Aku masih ingin belajar banyak hal darinya. Bagaimana tangannya yang ringan membimbingku dan aku menghiasi harinya dengan untaian kata-kata mutiara.
Aku masih ingin kami saling mengisi dan melengkapi ruang-ruang kosong yang diciptakan Tuhan supaya kita berbagi.
Aku ingin selalu memberinya dukungan terbesarku dan ingin dia tahu bahwa orang yang tepat untuk ditemui ketika ia sedang tak beruntung dan memberinya senyum hangat serta sekeranjang penuh semangat itu adalah aku.
Aku masih ingin mengiriminya pesan di pagi hari hanya sekedar mengingatkannya untuk jogging atau bahkan minum susu.
Aku masih ingin melihatnya menjadi abang yang suka usil dan menyebalkan, seperti pak guru yang suka marah-marah, seperti sahabat yang selalu peduli dan perhatian, seperti teman yang selalu bercanda, bahkan berkelahi seperti musuh.
Saat mulai menulis note ini, aku merasa penuh dengan keraguan dan pertanyaan-pertanyaan ajaib. Kebimbangan yang seharusnya tidak perlu karena setelah sampai pada kata ini, semua keraguan, bimbang, ke-tidak-yakinan, ke-tidak-mantapan-ku dan semua hal-hal yang berkaitan dengan itu menjadi luluh. Sekarang aku tahu sampai kapanpun aku tidak bisa menafsirkan apa itu kasih sayang dan hanya bisa merasakannya karena kasih dan sayang itu tempatnya dekat sekali dengan Tuhan. Dan yang aku tahu, ketika aku merasakan keraguan itu, yang ku butuhkan hanya mengingatnya dan semua yang sudah kami lewati bersama.
:)