Jumat, 22 Juni 2012

The Ship

Ada saat dimana saya merasa tangan saya tidak cukup panjang untuk merangkul semua orang. Saat dimana saya lelah terus-menerus berusaha mengerti. Saat dimana otak saya tidak tahan dengan semua pikiran yang berkelindan dan berbagai pertanyaan yang (jawabannya) membingungkan itu.
Terkadang saya merasa tidak sanggup berjalan lebih jauh lagi. Saya masih berusaha menyeret langkah dengan napas satu-satu, tapi entahlah, saya merasa semua yang saya lakukan ini sia-sia. Saya merasa jalan di tempat. Berlari pun saya tidak mencapai tempat manapun, layaknya jogging di treadmill. Padahal ini masih setengah perjalanan.
Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Tidak boleh sembarangan bicara. Emosi harus stabil dan tidak boleh takut. Apalagi takut sendirian. Karena sesungguhnya kursi untuk posisi paling tinggi tersedia hanya untuk satu orang.
Saya lelah.
Membawa diri sendiri lebih baik saja saya belum bisa. Panggil saya si sumbu pendek, mudah dipantik dan buzz! Secepat kilat saya dapat padam dengan sendirinya. Ada kalanya saya menyesali segala ucapan saya yang tajam menghunus seperti pedang. 
Sampai dengan hari ini, saya harus menahkodai sebuah kapal dengan banyak awak dan membawa mereka berlayar mengarungi lautan harapan. Harapan untuk menjadi insan-insan yang lebih baik supaya sampai pada tempat yang baik pula.
Dahulu saya juga menjadi awak di kapal ini. Sama seperti mereka. Membentangkan dan menggulung layar, mengepel dek, bergelut dengan badai. Kapal ini menjadi saksi saya dan awak lainnya, tempat keringat dan peluh menetes di lantai kayunya. Juga segala tangis, haru, dan tawa. Saat ini waktunya saya yang mengarahkan kemana kapal ini melaju.
Saya punya impian yang besar pada kapal ini, pada awak-awaknya. Suatu saat kapal ini harus semakin besar.
Saya adalah orang yang menghargai proses, dan saya percaya bahwa tujuan yang baik, apabila dilakukan dengan proses yang baik, maka hasilnya pun baik. Proses yang baik tentunya juga harus dibarengi dengan kerja keras. Semangat ingin berbenah yang tinggi. Tidak ingin kalah dan ingin selalu maju.
Mungkin saya agak kecewa karena saya belum temukan itu di dalam diri mereka.
Sulitnya pun dalam menyatukan banyak kepala hingga tidak tercapainya kata sepakat dalam visi, menambah daftar kekecewaan saya. Menjadi kapal barang ataukah kapal perang?
Saya ingin mereka melihat keluar cangkang. Kapal ini belum ada apa-apanya dibandingkan kapal lainnya.
Bukan, saya bukan bermaksud untuk membandingkan. Tapi perubahan adalah hal yang mutlak jika ingin menjadi lebih baik. Sampai kapan ingin terjebak dalam kondisi yang stagnan seperti saat ini?
Melihat mereka, melihat semuanya, tidak ada yang lebih membuat saya kecewa dibanding diri saya sendiri. Jika mereka gagal, jika kapal ini gagal, maka saya lebih gagal karena saya lah pemimpinnya.
Sebenarnya satu kata kunci: belajar. Saya ingin mereka terus belajar. Karena saya pun sebenarnya masih dalam proses. Belajar percaya pada diri sendiri, pada kemampuan sendiri, belajar percaya pada mereka, belajar percaya bahwa bersama-sama kami bisa membawa kapal ini ke tempat yang kami tuju. Saya pun belajar, berbenah sambil memperkaya ilmu. Saya masih belajar bagaimana mengatasi keangkuhan saya yang gemar mengangkangi segala hal sendirian, belajar mengerti, belajar untuk tidak mencela-cela padahal sebenarnya saya tidak lebih baik dari mereka. Saya masih belajar mengalahkan rasa takut dan pesimis saya. Saya masih berusaha memahami serba paradoks ini.
Ilmu itu serupa air dalam kehidupan. Maka teruslah menjadi haus. Belajar, mengambil pengalaman dari mana saja, dari siapa saja, di mana saja, kapan saja.
Saya mungkin tidak bisa menyenangkan semua orang. Tapi saya berusaha yang terbaik untuk diri saya, untuk kapal ini, untuk mereka. Waktu saya tidak banyak dan saya tidak bisa jika sendirian.

Deret kata yang perlahan kabur ini hanyalah racauan ketika pesimis datang. Semata-mata hanya untuk memberi semangat pada diri saya sendiri. Semoga.

1 komentar:

  1. ada kalanya sebuah kapal tertempa badai halauan yang membuat arah angin tak stabil,,,:)
    tujuan akan tetap tercapai bila si kapten tetap senyum dan tegar dalam menghadapi badai yang sedang menghadang,,,:)

    BalasHapus